20 July 2026 Admin Redaksi BLORA – Sudutteras.com Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Blora kembali menuai sorotan tajam. Belum genap satu tahun pascainsiden serupa yang menimpa ratusan siswa SMP, petaka keracunan massal diduga kembali terjadi. Kali ini, puluhan murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sendangrejo, Wilayah Ketanggi, Kecamatan Ngawen, terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mengonsumsi susu yang menjadi bagian dari menu program tersebut.Insiden ini sontak memicu kepanikan warga dan memantik gelombang desakan publik terkait evaluasi total standar higienitas pasokan pangan bagi generasi muda.Kronologi dan Kepanikan di KetanggiPeristiwa bermula saat para siswa mulai mengeluhkan gejala klinis yang identik—seperti mual dan pusing—tak lama setelah menyantap menu MBG yang dibagikan pihak sekolah. Salah seorang warga setempat, Lilik, mengonfirmasi bahwa kepanikan sempat melanda lingkungan sekolah saat satu per satu siswa tumbang.”Ada 20 anak [yang terdampak],” ungkap Lilik saat memberikan keterangan di lokasi kejadian.Eskalasi situasi dengan cepat berpindah ke Puskesmas Ngawen. Berdasarkan pantauan di lapangan, ruang perawatan mendadak sibuk oleh hilir mudik petugas medis yang bersiaga memberikan penanganan intensif. Jagat maya pun riuh; foto-foto yang memperlihatkan para murid terbaring lemas di ranjang perawatan sembari dijenguk oleh jajaran pejabat daerah Blora beredar luas di media sosial.Seorang warganet, Siti Masruroh, melalui unggahannya turut memperkuat informasi yang berkembang di akar rumput. “Sekarang lagi di Puskesmas Ngawen. Keracunan susu basi jarene (katanya),” tulisnya, merefleksikan kecurigaan awal yang beredar di tengah masyarakat mengenai kondisi komoditas susu tersebut.Otoritas Kesehatan Ambil Langkah Hati-hatiPemerintah Kabupaten Blora bergerak cepat menanggapi situasi darurat ini. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora, Edy Widayat, membenarkan adanya peristiwa pilu yang menimpa puluhan siswa sekolah dasar tersebut. “Iya, benar [ada kejadian tersebut]. Saat ini para siswa sedang mendapatkan penanganan intensif di Puskesmas Ngawen,” ujar Edy saat dikonfirmasi, memastikan prioritas utama saat ini adalah memulihkan kondisi fisik para korban. Salah seorang siswa sedang dalam perawatan di puskesmas Ngawen Kendati demikian, Dinkes Blora memilih bersikap konservatif dan enggan terburu-buru menunjuk hidung pihak penyedia atau memastikan penyebab eksternal. Ketika didesak mengenai kepastian sumber racun dan keterkaitannya langsung dengan menu komoditas susu program MBG, Edy menegaskan bahwa investigasi epidemiologi masih berjalan. Pihaknya menyatakan belum berani mengambil kesimpulan dini sebelum hasil uji laboratorium keluar secara resmi.Hingga laporan ini diturunkan, baik otoritas kedinasan maupun pihak manajemen SDN Sendangrejo belum merilis rincian mutakhir mengenai total akumulatif siswa yang terpapar kompromi medis tersebut.Jejak Kelam Evaluasi Sanitasi PanganKejadian yang menimpa siswa SDN Sendangrejo ini seolah membuka kembali memori kelam atas rapuhnya sistem pengawasan pangan di Kabupaten Blora. Jika ditarik garis komparasi dengan insiden terdahulu, terdapat pergeseran pola namun dengan dampak fatal yang serupa.Pada tragedi di SMPN 1 Blora yang terjadi pada November 2025 silam, skala dampak terbilang jauh lebih masif dengan menjangkau 198 hingga 204 siswa. Kala itu, petaka dipicu oleh kontaminasi bakteri E. coli pada menu berat berupa ayam goreng dan sayur wortel akibat buruknya sanitasi pengolahan.Sebaliknya, pada insiden teranyar di SDN Sendangrejo yang terjadi pada Juli 2026, fatalitas menyasar kelompok usia yang lebih muda dengan data awal mencatat sekitar 20 siswa terpaksa dilarikan ke Puskesmas Ngawen. Berbeda dengan kasus sebelumnya yang bersumber dari makanan olahan dapur, kali ini atensi publik dan otoritas tertuju pada komoditas siap konsumsi berupa susu.Berulangnya insiden dengan pola serupa dalam kurun waktu kurang dari satu tahun memunculkan pertanyaan besar dari publik: Sejauh mana regulasi, pengawasan, dan komitmen mitigasi risiko pangan dijalankan oleh otoritas terkait di Kabupaten Blora? Meskipun hasil uji laboratorium untuk kasus SDN Sendangrejo masih harus menunggu kepastian resmi, benang merah dari kedua peristiwa ini tetap bermuara pada satu urgensi besar: investigasi mendalam untuk mengungkap apakah kelalaian ini berada pada level rantai pasok lokal ataukah pada SOP distribusi yang kedaluwarsa. Post navigation Menembus Pasar Kerja Global, 66 Siswa Ma’arif Jateng Tarung Seleksi Magang Jepang