9 August 2026 Admin Redaksi BLORA — Sudutteras.comKesenian daerah sering kali terjebak dalam stagnasi pertunjukan dan kehilangan relevansi di tengah perubahan zaman. Menanggapi fenomena tersebut, akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (melalui skema pendanaan Pendidikan Tinggi) menerjunkan tim ahli untuk mengintervensi ekosistem seni lokal melalui Program Pengetrapan Inovasi untuk Masyarakat Negeri (PEISN).Kesenian daerah sering kali terjebak dalam stagnasi pertunjukan dan kehilangan relevansi di tengah perubahan zaman. Menanggapi fenomena tersebut, akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (melalui skema pendanaan Pendidikan Tinggi) menerjunkan tim ahli untuk mengintervensi ekosistem seni lokal melalui Program Pengetrapan Inovasi untuk Masyarakat Negeri (PEISN). Fokus utama langkah korektif ini tertuju pada kawasan ekologis dan budaya Guwa Sentono di Kabupaten Blora. Akademisi ISI Surakarta, Dr. Katarina Indah Sulastuti, S.Sn., M.Sn., menegaskan bahwa penugasan ini merupakan bentuk pengabdian berbasis riset untuk menghidupkan kembali ruang publik serta memperkuat seni pertunjukan tradisional agar mampu bersaing secara estetis. Kegiatan di Guwa Sentono ini merupakan inisiasi luar biasa dari kementerian melalui program PEISN. Negara memberikan mandat kepada para dosen untuk menyalurkan inovasi seni langsung ke kelompok-kelompok masyarakat. Tujuan utamanya adalah merevitalisasi Kawasan Guwa Sentono agar lebih hidup, baik dari aspek ruang publiknya maupun performa pertunjukannya,” ujar Dr. Katarina. Restorasi Narasi: Menghidupkan Kembali Bajak Ngilo dan Sunan Bonang Dalam proyek revitalisasi ini, tim akademisi bekerja sama dengan Satuan Kerja Pertunjukan (SKB) dan sanggar seni lokal seperti Singo Kembang Budoyo. Salah satu terobosan naratif yang diusung adalah menggali dan menampilkan kembali tokoh-tokoh legenda lokal yang sempat terpinggirkan dari panggung pertunjukan Barongan. Lakon legenda historis, seperti pertarungan spiritual dan filosofis antara Bajak Ngilo dan Sunan Bonang, direkonstruksi ulang untuk ditampilkan dalam pergelaran berkala serta festival puncak di kawasan situs budaya Guwa Sentono. Kami melakukan inovasi pertunjukan yang memunculkan kembali tokoh-tokoh legenda lokal, seperti Bajak Ngilo dan Sunan Bonang. Narasi ini kami kemas secara dinamis dalam festival panggung terbuka di Guwa Sentono agar nilai sejarah dan mistisisme lokalnya tetap memiliki daya pikat bagi generasi modern,” ungkapnya. Inovasi Kostum dan Pementasan Barongan Tidak hanya menyasar aspek jalan cerita, intervensi keilmuan ISI Surakarta juga menyentuh elemen visual pertunjukan. Pengembangan tata busana (costume design) baru untuk seni Barongan dirancang secara konseptual guna mempertegas karakterisasi penokohan di atas panggung tanpa menghilangkan akar tradisinya. Dosen dan peneliti seni ini memandang bahwa pembaruan kostum serta kebaruan tata panggung merupakan instrumen vital dalam membangun daya tarik pariwisata berbasis budaya di daerah. Inovasi yang sangat krusial terletak pada tata busana pertunjukan Barongan. Seluruh karya visual dan konsep pementasan ini adalah dedikasi kami sebagai dosen perguruan tinggi negeri untuk negeri. Kami berharap Guwa Sentono semakin hidup, berjaya, serta mampu memberikan dampak ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat setempat,” pungkas Dr. Katarina. Post navigation Melawan Amnesia Budaya,Ketika Akademisi UNS ‘Meretas’ Kostum Demi Masa Depan Seni Guwa Sentono MEREBUT KEDAULATAN VISUAL BLORA,INOVASI BATIK TULIS DAN CAP BERBASIS MITOLOGI BENGAWAN SOLO