9 August 2026 Admin Redaksi BLORA — Sudutteras.com Praktik pelestarian budaya daerah sering kali terjebak dalam romantisme seremonial yang bersifat musiman. Ancaman komodifikasi yang hilang-timbul—atau sekadar menjadi komoditas pertunjukan sesaat—menjadi sorotan tajam kalangan akademisi. Menanggapi realitas tersebut, tim peneliti dari Universitas Sebelas Maret (UNS) menginisiasi langkah korektif berbasis riset dan inovasi visual pada seni pertunjukan Tradisi Guwa Sentono di Kabupaten Blora. Akademisi UNS, Dr. Ratna Endah Santoso, S.Sn., M.Sn., menegaskan bahwa seni tradisional seperti Guwa Sentono memiliki potensi sosial-ekonomi yang masif jika dikelola secara konseptual. Namun, tanpa intervensi keilmuan dan keberlanjutan, pertunjukan tersebut berisiko mengalami degradasi nilai. “Pertunjukan Guwa Sentono adalah salah satu warisan budaya yang wajib kita uri-uri (lestarikan). Jangan sampai pertunjukan ini hanya menjadi komoditas sesaat—kadang muncul, lalu hilang begitu saja. Seni inmenyimpan potensi yang sangat besar untuk memberikan dampak positif berkelanjutan bagi masyarakat,” tegas Dr. Ratna saat ditemui di sela-sela kegiatannya. Inovasi Kostum Berbasis Alur Narasi Guna memutus rantai kepunahan dan meningkatkan daya pikat visual, tim Program Hibah Pengetrapan Inovasi untuk Masyarakat Negeri (PEISN) UNS berkolaborasi dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta serta Satuan Kerja Pertunjukan (SKP) dan mitra strategis lokal. Fokus utama intervensi ini terletak pada pementasan ulang yang dibarengi dengan kebaruan desain tata busana (costume design). Menurut Dr. Ratna, busana pertunjukan bukan sekadar penutup tubuh atau hiasan panggung, melainkan instrumen naratif yang membawa karakter lakon hidup di hadapan penonton. “Keluaran utama dari program ini adalah inovasi tata busana. Kami merancang kebaruan kostum secara konseptual, berbasis riset mendalam terhadap alur cerita dan karakterisasi penokohan yang akan tampil. Setiap detail, warna, hingga struktur kain dipikirkan agar memiliki relevansi estetis dan daya tarik tersendiri,” jelasnya. Membangkitkan Potensi Lokal Blora Kawasan Blora dinilai memiliki khazanah budaya yang kaya namun sering kali minim sentuhan modernisasi tata kelola. Melalui pendekatan ilmiah ini, akademisi tidak hanya memosisikan diri sebagai pengamat, tetapi juga sebagai agen perubahan yang merangsang kesadaran kolektif masyarakat lokal. Langkah ini diharapkan mampu mendorong masyarakat sekitar untuk kembali mengapresiasi serta mengidentifikasi diri mereka dengan budaya lokal, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif berbasis seni pertunjukan. “Blora menyimpan potensi kebudayaan yang luar biasa. Harapan kami, implementasi program PEISN ini tidak berhenti sebagai agenda akademis semata, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata, berkesinambungan, dan menguntungkan bagi ekosistem masyarakat lokal,” pungkas Dr. Ratna. Post navigation Revitalisasi di Tepi Tebing Kapur ,Cara UNS dan ISI Solo Membongkar Stagnasi Seni Rakyat Blora MEREAKSI STAGNASI BARONGAN,CARA AKADEMISI ISI MERETAS NARASI DAN KOSTUM GUWA SENTONO BLORA